No Widgets found in the Sidebar
Aplikasi YouTube Vanced Ditutup Setelah Dapat Ancaman dari Google

The Devil’s Light tayang di jaringan bioskop Tanah Air mulai pekan ini. Di luar Indonesia, film karya sutradara Daniel Stamm ini dirilis dengan judul kontroversial yakni Prey For The Devil.

Film The Devil’s Light yang dibintangi Jacqueline Byers dan Posy Taylor mengusung tema pengusiran setan alias eksorsisme. Tema ini bukan hal baru bagi industri film Hollywood.

Pasalnya, sejak The Exorcist (1973) karya William Friedkin mendulang pendapat kotor 441 juta dolar AS (kini setara 6,8 triliun rupiah) dari seluruh dunia plus 2 Piala Oscar, tema pengusiran setan difotokopi dalam berbagai skala hingga kusut.

Hampir 50 tahun berlalu sejak The Exorcist meneror bioskop, masihkah The Devil’s Light menarik untuk ditonton? Berikut resensi film atau review film The Devil’s Light. Selamat menyimak.

Masa Lalu Kelam

Kisah The Devil’s Light berawal dari Suster Ann (Jacqueline Byers) dengan masa lalu kelam. Ann kecil (Debora Zhecheva) kerap disiksa ibunya (Koyna Ruseva). Suatu hari, Ann kecil mendapati ibunya tewas bersimbah darah.

Ia melanjutkan hidup dengan tinggal di panti asuhan lalu menetap di sekolah eksorsisme yang didirikan pusat Gereja Katolik untuk melatih para biarawan melakukan ritual pengusiran setan di jalan Tuhan.

Sejumlah “pasien” ada di sekolah tersebut. Salah satunya, Natalie (Posy Taylor). Father Quinn (Colin Salmon) yang memimpin kelas mengajak Dante (Christian Navarro) dan Raymond (Nicholas Ralph) menjalani praktik mengusir roh yang merasuki Natalie.

Ritual Berujung Tragedi

Keduanya gagal. Ann masuk ke ruang pasien dan melakukan kontak dengan jiwa Natalie yang kian jauh. Atas keberhasilan ini, Father Quinn mengizinkan Ann menjadi siswi pertama di sekolah eksorsisme.

Suatu malam, Dante meminta Ann menyembuhkan adiknya, Emilia (Cora Kurk) yang kerasukan setan. Sebuah rahasia masa lalu dikuak roh yang bersemayam di tubuh Emilia. Ritual eksorsisme malam itu berujung tragedi mengerikan.

Bukan Film Sempurna

The Devil’s Light bukan film sempurna. Ia menawarkan dunia sempit Ann dengan latar buram. Rahasia ibu Ann terkait suara-suara yang berbisik di kepala hingga mengapa itu menjalar ke sejumlah tokoh lain yang muncul bertahun-tahun setelahnya tetap saja samar.

Andai latar ini diperjelas dengan sejumlah adegan untuk menjembatani hidup Ann di era kekinian, The Devil’s Light bisa jadi wahana seram yang utuh dan menyenangkan. Pasalnya, sejumlah titik seram berhasil dibangun dan efektif bikin jantung penonton cenat-cenut.

Jacqueline Byers Cukup Berhasil

Ann di tangan aktris Jacqueline Byers cukup berhasil. Transisinya dari wanita biasa menjadi biarawati dengan bakat potensial meyakinkan penonton. Chemistry-nya dengan aktris cilik Posy Taylor terasa manis sejak menit awal.

Koneksi dengan Christian Navarro pemeran Dante, meski malu-malu dan terasa berjarak, sejatinya masih efektif membimbing penonton mengikuti sejumlah klu hingga ke babak akhir.

Posy Taylor Sang Penggerak

Cerita The Devil’s Light bergerak fluktuatif seperti mengendarai roller-coaster. Penggerak film ini, bagi kami, justru Natalie yang diperankan dengan apik oleh Posy Taylor.

Jangankan akting kesurupan atau “sakit” di ranjang, dia diam dengan sorot mata tajam saja bikin penonton deg-degan. Penokohan The Devil’s Light dibangun lewat kelebat-kelebat masalah hidup.

Kurang Punya Rasa Memiliki

Tampaknya, inilah yang membuat penonton kurang punya rasa memiliki terhadap para tokoh baik utama maupun pendukung. Ini pula yang mungkin membuat babak akhir The Devil’s Light terasa kurang legit.

Sejumlah kejutan khususnya di adegan pengusiran setan, untungnya masih seram. Para pencinta film horor masih bisa kaget atau menjerit, dengan kata lain terhibur oleh efek kejut The Devil’s Light.

Pemain: Jacqueline Byers, Posy Taylor, Colin Salmon, Christian Navarro, Lisa Palfrey, Nicholas Ralph, Ben Cross, Virginia Madsen, Debora Zhecheva

Produser: Paul Brooks, Earl Richey Jones, Todd R. Jones, Jessica Malanaphy Starring

Sutradara: Daniel Stamm

Penulis: Robert Zappia

Produksi: Gold Circle Films, Lionsgate

Durasi: 1 jam, 33 menit

Baca Juga : 12 Wisata Bandung yang Hits dan Populer, Miliki Pesona Alam Indah

By admin